HASIL SIPB

November 13, 2010 at 3:40 am Tinggalkan komentar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pusat Bahasa telah mengadakan Simposium Internasional Perencanaan Bahasa (SIPB) tanggal 2-4 November di Hotel Sari Pan Pacific. Peserta SIPB adalah para pakar bahasa dari luar dan dalam negeri, peneliti, dosen, guru dan mahasiswa.

Tujuan simposium  untuk mengetahui perencanaan bahasa yang ada pada beberapa negara dengan berbagai persoalan sehingga dapat menjadi perbandingan bagi negara lain dalam menentukan perencanaan bahasa pada masa depan.

Hasil SIPB dirumuskan oleh

Tim Perumus:

1. Yasir Nasasius, Ph.D. (Ketua)

2. Dra. Ieda Purnomo Sigit Sidi, Psi. (Wakil Ketua)

3. Drs. Abdul Khak, M.Hum. (Sekretaris)

4. Dr. Sugiyono (Anggota)

5. Drs. C. Ruddyanto, M.A. (Anggota)

6. Prof. Dr. Mahsun (Anggota)

7. Dr. Fairul Zabadi (Anggota)

8. Wenny Oktavia, M.A. (Anggota)

9. Kity Karenisa, S.S. (Anggota)

Hasil rumusan sebagai berikut:

Rumusan Hasil

Simposium Internasional Perencanaan Bahasa

“Perencanaan Bahasa pada Abad ke-21: Kendala dan Tantangan”

pada tanggal 2—3 November 2010 di Hotel Sari Pacific, Jakarta

I.Latar Belakang

Dalam perkembangan zaman yang menuju ke arah satu dusun besar yang menjagat diperlukan bahasa yang cakupannya mengglobal sebagai hasil perencanaan yang tepat. Dewasa ini ilmu dan pengetahuan penduduk semakin berkembang pesat. Kondisi dan situasi ini menjadi dasar pentingnya perencanaan bahasa dalam suatu negara yang mempertimbangkan kondisi bahasa daerah sebagai  pilar pendukung bahasa nasional. Dalam tatanan kebangsaan yang mengacu pada Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahasa Indonesia sangat perlu dipahami sebagai bahasa persatuan dan kesatuan yang menjadi ciri identitas bangsa dan negara. Eksistensi bahasa daerah merupakan cerminan dari Bhinneka Tunggal Ika yang memberi ruang bagi bahasa daerah dalam tatanan berbahasa di Indonesia.

Simposium Internasional Perencanaan Bahasa 2010 merupakan upaya melihat, membahas, dan mendalami kondisi dan situasi bahasa di Indonesia dalam rangka menyusun perencanaan yang tepat sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Upaya ini dilakukan demi meningkatkan fungsi dan peran bahasa kebangsaan untuk menjadi bahasa yang mampu dan mumpuni sebagai penopang perkembangan budaya. Posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional perlu dipertajam, terutama dalam kaitannya dengan posisi bahasa daerah dan bahasa asing yang digunakan di Indonesia. Paparan makalah dalam simposium yang merupakan hasil studi dan pengamatan di berbagai negara memberi sumbangan bagi perencanaan bahasa yang meliputi perencanaan korpus, perencanaan status, dan perencanaan pemerolehan.

II. Pokok-Pokok Pikiran

  1. Dalam kadar tertentu, perencanaan bahasa diterapkan di beberapa negara untuk membangun kestabilan kehidupan berbangsa.
  2. Perencanaan bahasa juga dilakukan untuk mengakomodasi kepentingan kelompok minoritas, misalnya di dalam dunia pendidikan.
  3. Perencanaan bahasa dilakukan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan hak-hak sipil.
  4. Realitas kebahasaan di sebuah negara memengaruhi kebijakan kebahasaannya.
  5. Perencanaan bahasa memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat.
  6. Kondisi kebahasaan di Indonesia saat ini dinilai memerlukan penanganan yang lebih serius.
  7. Perencanaan korpus hanya menyangkut ragam tinggi.
  8. Hasil-hasil perencanaan bahasa dinilai kurang dimasyarakatkan.
  9. Penggunaan bahasa cenderung dipengaruhi oleh motivasi tertentu, misalnya ekonomi.
  10. Perencanaan bahasa meliputi bahasa nasional, bahasa daerah, dan  bahasa asing.
  11. Dalam dunia pendidikan, ada kecenderungan bahasa Indonesia tidak lagi digunakan sebagai bahasa pengantar utama, misalnya pada (rintisan) sekolah bertaraf internasional atau (R)SBI.
  12. Belum ada standardisasi sistem isyarat bahasa Indonesia.
  13. Belum ada perencanaan yang mantap untuk menangani bahasa daerah dan bahasa asing.
  14. Pemertahanan bahasa daerah, terutama bahasa-bahasa daerah yang kecil, belum mempertimbangkan aspek pragmatisnya.
  15. Pengajaran bahasa yang berkarakter kebangsaan belum dipertimbangkan dalam perencanaan bahasa.
  16. Teknologi informasi sangat potensial dimanfaatkan untuk pembinaan, pengembangan, dan pelindungan bahasa.
  17. Media massa memiliki peranan penting dalam upaya  pembinaan, pengembangan, dan pelindungan bahasa.
  18. Pelibatan organisasi profesi dalam perencanaan bahasa belum optimal.

III. Rekomendasi

  1. Perencanaan bahasa perlu mengakomodasi kepentingan kelompok minoritas, misalnya di dalam dunia pendidikan.
  2. Perencanaan bahasa harus dilakukan dengan memperhatikan dan mempertimbangkan hak-hak sipil dan kondisi sosial budaya masyarakat.
  3. Persoalan kebahasaan di Indonesia hendaknya ditangani secara lebih serius.
  4. Hasil-hasil perencanaan bahasa harus dimasyarakatkan seluas-luasnya.
  5. Di samping ragam tinggi, perencanaan korpus harus terfokus juga pada ragam rendah.
  6. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar utama di dunia pendidikan perlu pengawasan.
  7. Perlu ada standardisasi sistem isyarat bahasa Indonesia.
  8. Perencanaan bahasa-bahasa daerah di Indonesia harus dilakukan dengan cara: (1) mempertahankan bahasa-bahasa daerah yang masih memiliki daya hidup; (2) memperkuat daya hidup bahasa-bahasa daerah yang terancam punah; dan (3) menumbuhkan daya hidup bahasa yang hampir punah.
  9. Perencanaan bahasa asing perlu dilakukan dengan cara: (1) meningkatkan kompetensi berbahasa secara lisan dan tulis; (2)  mempekerjakan guru penutur asli; (3) menentukan bahasa asing yang digunakan dalam suatu bidang, misalnya perdagangan dan industri.
  10. Pemertahanan bahasa daerah, terutama bahasa-bahasa daerah yang kecil, harus mempertimbangkan aspek pragmatisnya.
  11. Khusus untuk wilayah pedesaan yang berbahasa ibu yang homogen didorong untuk menggunakan bahasa ibu pada tingkat awal pendidikan.
  12. Pengajaran bahasa yang berkarakter kebangsaan harus dipertimbangkan dalam perencanaan bahasa.
  13. Teknologi informasi harus dimanfaatkan untuk pembinaan, pengembangan, dan pelindungan bahasa.
  14. Media massa dan organisasi profesi perlu lebih dilibatkan dalam upaya  pembinaan, pengembangan, dan pelindungan bahasa.
  15. Perlu diciptakan kondisi yang membangkitkan minat berbahasa yang sesuai dengan fungsinya secara baik dan benar.
  16. Perlu pertemuan tingkat nasional untuk membicarakan kebijakan pengelolaan bahasa di Indonesia sesuai dengan keputusan simposium ini.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

HASIL WORKSHOP DI SMK 3 JAKARTA KISI-KISI UUB SEMESTER GANJIL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


KTSP

Silabus dan RPP Bahasa Indonesia (Revisi)

Flickr Photos

2016 Lake Yamanaka winter Fuji

Butterfly

Aurora Borealis at Jökulsárlón

Lebih Banyak Foto
November 2010
S S R K J S M
« Okt   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Pos-pos Terbaru

Hymne Bahasa


%d blogger menyukai ini: