Archive for Februari, 2011

BEDAH SKL UN 2011

Rabu, 9 Februari 2011 di SMKN 3 Jakarta MGMP bahasa Indonesia SMK mengadakan Bedah SKL UN 2011 Ke 2.  Jumlah peserta yang hadir 54 orang, tidak hanya dihadiri guru-guru bahasa Indonesia Jakarta Pusat tetapi juga dari Jakarta Barat dan Utara. Narasumber yang diundang adalah pakar bahasa Indonesia yang juga tim penyusun soal UN yaitu Bapak Drs. Husin, M.M.

Isi kegiatan ini membahas dan memecahkan permasalahan soal-soal UN bahasa Indonesia yang kadang membuat guru bahasa Indonesia juga bingung karena soalnya rancu. Peserta sangat antusias mendengar penjelasan narasumber demikian juga narasumber semangat memberikan penjelasan kepada peserta sampai kegiatan ini berakhir lebih dari yang dijadwalkan. Dalam kegiatan juga dibagikan 5 paket soal Simulasi UN 2010/2011  yang ditulis oleh Drs. Husin, M.M. dengan penerbitnya AIRLANGGA. Paket simulasi ini membantu guru-guru bahasa Indonesia untuk mengadakan try out di sekolahnya. Narasumber juga memberikan contoh resensi untuk kegiatan Ujian Sekolah Praktik bahasa Indonesia.

CONTOH RESENSI DAPAT DI UNDUH DI SINI –>SENYUM OBAT STRESS SEKALIGUS SEDEKAH-1

Bedah SKL UN 2011 diadakan 2kali, pertama tanggal 5 januari 2011 tempatnya juga di SMKN 3 dihadiri oleh 48 orang, Isi kegiatan ini, peserta diminta membuat kisi-kisi soal berdasarkan SKL UN 2011 kemudian membuat kartu soal berdasarkan kisi-kisi tersebut. Lalu mempresentasikan hasilnya di depan teman-teman guru, dan yang lainnya menelaah berdasarkan Materi, Konstruksi dan Bahasa/Budaya

Kisi-kisi hasil kerja peserta diedit dan dirumuskan oleh tim penyusun soal dan dipakai untuk  Ujian Sekolah  bahasa Indonesia wilayah Jakarta Pusat. KISI-KISI BAHASA INDONESIA SMK BERDASARKAN SKL UN 2010/2011 HASIL MGMP DAPAT DI UNDUH DI SINI –> KISI-KISI US BIND 2011

Kegiatan ini tidak hanya bedah SKL saja tetapi juga sosialisasi lomba PMKBN (Pembinaan Mental Kewirausahaan dan Bela Negara) bidang bahasa Indonesia. Hasilnya adalah kesepakatan juknis lomba PMKBN yang akan diselenggarakan tanggal 4 Mei 2011

JUKNIS LOMBA PMKBN DAPAT DIUNDUH DI SINI

–> PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN LOMBA

Catatan: Sekolah yang berminat segera mendaftarkan siswanya  sebelum tanggal 28 Februari 2011 di SMKN 3, SMKN 14 dan SMKN 27

Iklan

Februari 13, 2011 at 6:01 am Tinggalkan komentar

CONTOH RESENSI

SENYUM OBAT STRESS SEKALIGUS SEDEKAH

Senyum Obat Stress, Penulis: Amru Badran, Penerbit: Khalifa, Cetakan: pertama, 2006, Tebal: (xii + 82) hlm, Harga Rp22.000,00

Senyum adalah obat yang tiada taranya. Efek penyembuhannya sungguh luar biasa. Anda tidak perlu pergi jauh untuk mencarinya atau mengeluarkan isi kantong Anda. Sebab, obat yang satu ini selalu ada bersama Anda. Hanya dengan menggerakkan sedikit otot bibir  saja, senyum itu berkembang dengan indahnya.  Bahkan, dengan senyum ada puluhan otot penting yang bergerak dan sangat baik untuk kesehatan mental dan fisik Anda.

Pada bagian pengantar buku ini (hlm. x) , penulis juga menjelaskan bahwa senyum ternyata bukan hanya obat mental dan fisik saja, namun juga memberikan manfaat untuk kehidupan akhirat. Rasulullah Shalallahu Allaihi wa Salam pernah bersabda: “Senyum (yang engkau sunggingkan)  di wajah saudaramu adalah sedekah.” Banyak tersenyum berarti banyak sedakah. Bahkan, Ahmad Amin dalam Faidh Al Khathir mengatakan “Orang selalu tersenyum tidak hanya menjadi manusia paling bahagia dalam hidup mereka tetapi mereka juga orang yang paling mampu untuk bekerja, paling mampu memikul beban tanggung jawab, dan mampu menghadapi segala kesulitan  serta dapat menciptakan hal-hal besar yang berguna untuk mereka dan orang lain.

Pada intinya, buku ini mengingatkan kepada kita betapa pentingnya untuk selalu tersenyum. Tidak ada manfaatnya harta melimpah ruah kalau wajah kita selalu cemberut karena jiwa kita tertekan. Buku ini enak untuk dibaca karena diselingi dengan kisah-kisah yang menggelikan. Misalnya, “Huruf (tsa) berkata kepada huruf (sin): Saya dulu seperti dirimu tetapi seseorang telah mematuk tengahku.” (hlm. 76). Cerita-cerita semacam itu sebenarnya hanya sekadar untuk memancing kita agar tersenyum.

***

Di dalam mukadimah buku ini diceritakan tentang pengalaman penulis ketika memasuki salah satu kampung Mayyitu al-‘Amil di provinsi Daqahliah Mesir. Ia menemukan wajah-wajah muram sebagai indikasi tekanan jiwa para pemuda di kampung itu.  Salah seorang mahasiswa (Dasuki, 19 thn.) di Universitas Manshurah mengutarakan  tentang tekanan jiwa yang ia rasakan. Mahasiswa itu tertekan jiwanya bukan karena memikirkan proses belajar selama kuliah tetapi karena ia terlalu berpikir tentang masa depan setelah menyelesaikan kuliahnya. Ia bersama teman-temannya berusaha keluar dari tekanan jiwa ini dengan mengonsumsi narkoba dan menghabiskan waktu dengan jalan-jalan ke luar kota (hlm. 2).

Permasalahan yang dihadapi Dasuki dan teman-temannya itu adalah hal tidak baik yang dihadapi anak-anak remaja, termasuk anak remaja zaman sekarang. Akan tetapi tidak jarang anak remaja yang mampu mengatasi tekanan jiwa dengan ha-hal yang positif, seperti olahraga, mengikuti program seni budaya, dan sebagainya.

Dari hasil penelitian, ternyata tekanan jiwa akan meningkatkan enzim KBC. Enzim tersebut dapat menyebabkan berbagai penyakit, gelisah, kepribadian yang tidak stabil, lemah konsentrasi, tidak mampu membuat keputusan dan sebagainya. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus tentu akan merusak jaringan otak dan pada akhirnya seseorang menjadi stress. Oleh karena itu, obati tekanan jiwa itu dengan senyum. Karena telah terbukti bahwa senyuman sangat berperan positif bagi kesehatan manusia. Bahkan, senyuman dapat mengobati penyakit kulit, gigi, dan cacar. Pada derajat tertentu, senyuman juga mampu menurunkan tensi darah (hlm. 2 dan 3).

***

Senyum adalah tanda kesehatan dan kebahagiaan. Manusia yang selalu tersenyum adalah manusia bahagia. Disadari atau tidak, orang yang selalu tersenyum berarti telah menularkan kebahagiaan kepada orang lain. Orang yang senyum kepada orang yang sakit berarti orang tersebut telah menyembuhkan sebagian dari penyakitnya. Senyum adalah obat jiwa dan pahala bagi yang melakukannya. Oleh karena itu, alangkah indahnya jika seseorang melakukan pekerjaan dengan tersenyum.

Seorang psikolog Amerika pernah mengemukakan tentang hasil penelitiannya, yakni orang yang tidak pernah senyum atau tersenyum hanya dalam even-even tertentu ternyata orang-orang tersebut adalah orang yang selalu pesimis dalam hidupnya. Sebaliknya, bagi orang yang senantiasa tersenyum adalah orang yang sehat dan produktif. Jadi, senyum memang benar-benar penyebab kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup.

Rasulullah SAW juga menilai bahwa senyuman merupakan perbuatan kebaikan, sebagaimana sabdanya: “Segala kebahagiaan adalah sedekah. Sebagian dari kebaikan adalah senyuman yang engkau berikan kepada saudaramu.” Nabi Muhammad sendiri adalah orang yang selalu tersenyum.  Abud Darda berkata, “Saya tidak pernah melihat atau mendengar, Rasulullah berbicara, kecuali sambil tersenyum.” Senyuman yang bermakna tentulah senyum yang ikhlas dan lahir dari lubuk hati yang paling dalam. Senyuman yang tidak tulus akan berdampak negatif bagi orang yang melihatnya (hlm. 10).

Ternyata senyum itu beraneka , berwarna, dan memiliki berbagai makna. Senyum ada yang tulus, palsu, kegagalan, munafik, dan  senyum gelisah. Senyum juga mengandung beragam warna dan makna: senyum putih (berarti tulus), kuning (berarti palsu), hitam (berarti putus asa) dan sebagainya. Senyuman yang tulus akan menggerakan otot-otot kanan dan kiri di wajah seseorang. Sementara senyuman palsu hanya menggerakkan otot di sebelah kiri wajah (hlm. 14).

Senyuman sejati yang tulus dan putih merupakan langkah yang benar dalam mengungkapkan kebahagiaan. Senyuman yang jujur akan mengangkat otot-otot yang ada di dua sisi mulut sehingga kedua pipi pun ikut terangkat. Lalu bagaimana kita mengenal senyuman palsu. Senyuman palsu terlihat pada kedua mata yang mengecil atau menyempit. Tanda kedua senyuman palsu adalah bibir atas terangkat sangat ke atas sedangkan bibir bawah mengembang tanpa gerakan (hlm. 16).

***

Di dalam buku ini dijelaskan juga berbagai pendapat tentang senyum, “Apa Kata Mereka Tentang Senyum.” Senyum bagaikan sihir karena senyum dapat menanamkan rasa optimis di dalam jiwa, menyingkirkan kegelisahan, menyusupkan kebahagiaan dan menyegarkan jiwa. Hikmah Thailand mengemukakan bahwa senyum adalah jalan pintas bagimu untuk sampai lubuk hati orang lain. Sementara itu William S. berpendapat bahwa “Lebih baik engkau menembus jalan dengan senyuman daripada engkau menembuskanya dengan pedang” (hlm. 21).

Semakin banyak pendapat tentang senyum semakin lengkap pula penjelasan tentang senyum itu sendiri.  Mungkin itu pendapat penulis buku ini. Namun, sangat disayangkan pendapat tentang senyum ini terlalu banyak mewarnai buku ini bahkan lebih dari setengah dari buku (hlm. 21- 83), sehingga agak sedikit membosankan. Akan tetapi, karena bahasanya tidak berbelit-belit dan lugas maka buku ini tetap enak untuk dibaca. Selain itu, orang yang membaca buku ini tentu akan mawas diri, misalnya: “Sudahkan saya sadari bahwa senyum itu dapat menyembuhkan stress dan sekaligus sedekah? Sudahkah hal itu saya terapkan dalam kehidupan saya? Sudah ikhlaskah saya ketika tersenyum?

Semoga senyum kita senantiasa ikhlas sehingga betul-betul bernilai sedekah atau ibadah. Senyumlah selalu agar tidak stress. Amin.

Februari 13, 2011 at 4:27 am Tinggalkan komentar

SEKALI LAGI TENTANG KTSP

Ketika kita membaca  sekilas judul      tulisan ini,  ingatan  kita  langsung tertuju      pada  Kurikulum  Tingkat  Satuan     Pendidikan (KTSP). Padahal yang penulis maksudkan adalah kata-kata yang diawali

dengan fonem /k/, /t/, /s/, atau /p/. Lalu, ada apa dengan fonem ktsp?

Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini media massa begitu gencar memopulerkan peristiwa luluhnya fonem /k/, /t/, /s/, /p/ di awal kata jika mendapat imbuhan me-, me-kan atau me-i. Tak urung, Pusat Bahasa pun merespon dengan baik. Apalagi guru bahasa Indonesia. Sungguh hal ini merupakan sasaran yang indah untuk dijadikan sebagai bahan menulis soal ulangan atau ujian. Misalnya: Kata berikut ini yang tidak baku adalah (a) mengkonsumsi,     (b) memesona, (c) memengaruhi, (d) mentransfer, (e) memelopori.

Peserta didik atau mungkin guru bahasa Indonesia sekalipun apabila kurang mengikuti perkembangan kosakata, soal ini mungkin tergolong sulit. Padahal, kalau kita memahami rumus ktsp tentu jawabannya sangat mudah, yakni (a) mengkonsumsi. Fonem /k/ pada kata tersebut seharusnya luluh, menjadi mengon-sumsi.

Kata-kata yang diawali fonem /k/, /t/, /s/ atau /p/ lainya yang juga luluh karena mendapat imbuhan me-, me-kan atau me-i antara lain: mengalkulasi (kalkulasi), menelepon (telepon), menyekutukan (sekutu), dan memedomani (pedoman).

Fonem /t/ pada opsi atau pilihan jawaban (d) mentransfer memang tidak luluh karena kata tersebut diawali dengan deret konsonan  /tr/. Hal semacam itu juga berlaku pada kata-kata yang lain, misalnya kata kredit, traktor, starter, dan produksi. Fonem /k/, /t/, /s/ dan /p/ di awal kata-kata tersebut jika mendapat imbuhan me-, me-kan atau me-i tidak luluh, yakni mengkredit, mentraktor, menstarter, dan memproduksi.

Pertanyaannya, apakah setiap fonem /k/, /t/, /s/, atau /p/ yang mengawali sebuah kata dipastikan luluh jika mendapat imbuhan me-, me-kan atau me-i. Jika hal tersebut sudah menjadi kaidah dalam bahasa Indonesia maka setiap kata harus diperlakukan sama agar tidak membingungkan pengguna bahasa Indonesia.

Di dalam KBBI Pusat Bahasa edisi  keempat (2008) ternyata masih kita jumpai kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah di atas. Misalnya: kata mempunyai bukan memunyai, kata mempatroli bukan mematroli, memparafrasakan bukan memarafrasakan, mempermisikan bukan memermisikan.

Tidak jelas, alasan Pusat Bahasa memilih bentuk seperti itu. Mustakim dalam buku “Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum” menyatakan, huruf awal /p/ pada kata serapan dari bahasa asing tidak akan luluh jika digabung dengan imbuhan me- (1992:149). Jika hal ini yang dijadikan alasan, lalu bagai-manakah dengan kata mempunyai yang ada di dalam KBBI (2008: 1118). Apakah kata punya berasal dari unsur serapan asing? Kalau bukan, mengapa tidak ditulis memunyai?

Alasan Mustakim kiranya sulit untuk tetap dipertahankan. Sebab, di dalam KBBI (2008) cukup banyak kata serapan asing yang diawali dengan fonem /k/, /t/, /s/, /p/ namun fonem tersebut menjadi luluh apabila dibubuhi imbuhan me-, me-i, atau me-kan. Sebagai contoh: mengalkulasi (calculation), menyosialisasikan (social), menyuplai (suplay), menelepon (phone), dan sebagainya.

Kembali ke pertanyaan semula. Kapan-kah fonem /k/, /t/, /s/, atau /p/ akan luluh? Haruskah secara etimologis kita harus melihat asal-usulnya? Apakah hanya fonem /p/  di awal kata serapan yang tidak luluh jika mendapat imbuhan me-, me-i, atau me-kan? Adakah pertimbangan dari sisi linguistik?

Hal lain yang perlu dicermati bagi pengguna bahasa Indonesia adalah imbuhan me- tidak meluluhkan fonem /k/, /t/, /s/, atau /p/ jika dibubuhkan di  depan kata yang hanya memiliki satu suku. Misalnya: mengekop (menyundul bola dengan kepala), mengetik,  mengesol, dan mengepel.

Imbuhan me- juga tidak luluh jika dibubuhkan di depan kata berimbuhan yang diawali dengan fonem /k/, /t/, /s/, dan /p/. Misalnya: mentertawakan (tertawa), mempe-ragakan (peraga), memperhatikan (perhati/hati), dan sebagainya.

Akhirnya, marilah kita senantiasa konsisten untuk mematuhi kaidah penulisan kata dalam berbahasa Indonesia. Gunakan KBBI terkini (edisi keempat tahun 2008) sebagai salah satu acuan. Sebab perkembangan kosakata bahasa Indonesia memang begitu pesat. Sebagai contoh: KBBI edisi pertama (1988) hanya memuat 62 ribu lema, edisi kedua (1991) memuat 72 ribu lema, edisi ketiga (2001) memuat 78 ribu lema ditambah 2.034 peribahasa. Sedangkan KBBI edisi keempat (2008) sudah memuat 90.049  lema yang terdiri atas 41.250 lema pokok dan 48.799 sublema serta peribahasa sebanyak 2.036.

Penulis: Drs. Husin, M.M.

Kepala SMK Negeri 37 Jakarta

Februari 13, 2011 at 4:21 am Tinggalkan komentar


KTSP

Silabus dan RPP Bahasa Indonesia (Revisi)

Flickr Photos

Februari 2011
S S R K J S M
« Des   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Tulisan Terakhir

Hymne Bahasa