SEKALI LAGI TENTANG KTSP

Februari 13, 2011 at 4:21 am Tinggalkan komentar

Ketika kita membaca  sekilas judul      tulisan ini,  ingatan  kita  langsung tertuju      pada  Kurikulum  Tingkat  Satuan     Pendidikan (KTSP). Padahal yang penulis maksudkan adalah kata-kata yang diawali

dengan fonem /k/, /t/, /s/, atau /p/. Lalu, ada apa dengan fonem ktsp?

Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini media massa begitu gencar memopulerkan peristiwa luluhnya fonem /k/, /t/, /s/, /p/ di awal kata jika mendapat imbuhan me-, me-kan atau me-i. Tak urung, Pusat Bahasa pun merespon dengan baik. Apalagi guru bahasa Indonesia. Sungguh hal ini merupakan sasaran yang indah untuk dijadikan sebagai bahan menulis soal ulangan atau ujian. Misalnya: Kata berikut ini yang tidak baku adalah (a) mengkonsumsi,     (b) memesona, (c) memengaruhi, (d) mentransfer, (e) memelopori.

Peserta didik atau mungkin guru bahasa Indonesia sekalipun apabila kurang mengikuti perkembangan kosakata, soal ini mungkin tergolong sulit. Padahal, kalau kita memahami rumus ktsp tentu jawabannya sangat mudah, yakni (a) mengkonsumsi. Fonem /k/ pada kata tersebut seharusnya luluh, menjadi mengon-sumsi.

Kata-kata yang diawali fonem /k/, /t/, /s/ atau /p/ lainya yang juga luluh karena mendapat imbuhan me-, me-kan atau me-i antara lain: mengalkulasi (kalkulasi), menelepon (telepon), menyekutukan (sekutu), dan memedomani (pedoman).

Fonem /t/ pada opsi atau pilihan jawaban (d) mentransfer memang tidak luluh karena kata tersebut diawali dengan deret konsonan  /tr/. Hal semacam itu juga berlaku pada kata-kata yang lain, misalnya kata kredit, traktor, starter, dan produksi. Fonem /k/, /t/, /s/ dan /p/ di awal kata-kata tersebut jika mendapat imbuhan me-, me-kan atau me-i tidak luluh, yakni mengkredit, mentraktor, menstarter, dan memproduksi.

Pertanyaannya, apakah setiap fonem /k/, /t/, /s/, atau /p/ yang mengawali sebuah kata dipastikan luluh jika mendapat imbuhan me-, me-kan atau me-i. Jika hal tersebut sudah menjadi kaidah dalam bahasa Indonesia maka setiap kata harus diperlakukan sama agar tidak membingungkan pengguna bahasa Indonesia.

Di dalam KBBI Pusat Bahasa edisi  keempat (2008) ternyata masih kita jumpai kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah di atas. Misalnya: kata mempunyai bukan memunyai, kata mempatroli bukan mematroli, memparafrasakan bukan memarafrasakan, mempermisikan bukan memermisikan.

Tidak jelas, alasan Pusat Bahasa memilih bentuk seperti itu. Mustakim dalam buku “Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum” menyatakan, huruf awal /p/ pada kata serapan dari bahasa asing tidak akan luluh jika digabung dengan imbuhan me- (1992:149). Jika hal ini yang dijadikan alasan, lalu bagai-manakah dengan kata mempunyai yang ada di dalam KBBI (2008: 1118). Apakah kata punya berasal dari unsur serapan asing? Kalau bukan, mengapa tidak ditulis memunyai?

Alasan Mustakim kiranya sulit untuk tetap dipertahankan. Sebab, di dalam KBBI (2008) cukup banyak kata serapan asing yang diawali dengan fonem /k/, /t/, /s/, /p/ namun fonem tersebut menjadi luluh apabila dibubuhi imbuhan me-, me-i, atau me-kan. Sebagai contoh: mengalkulasi (calculation), menyosialisasikan (social), menyuplai (suplay), menelepon (phone), dan sebagainya.

Kembali ke pertanyaan semula. Kapan-kah fonem /k/, /t/, /s/, atau /p/ akan luluh? Haruskah secara etimologis kita harus melihat asal-usulnya? Apakah hanya fonem /p/  di awal kata serapan yang tidak luluh jika mendapat imbuhan me-, me-i, atau me-kan? Adakah pertimbangan dari sisi linguistik?

Hal lain yang perlu dicermati bagi pengguna bahasa Indonesia adalah imbuhan me- tidak meluluhkan fonem /k/, /t/, /s/, atau /p/ jika dibubuhkan di  depan kata yang hanya memiliki satu suku. Misalnya: mengekop (menyundul bola dengan kepala), mengetik,  mengesol, dan mengepel.

Imbuhan me- juga tidak luluh jika dibubuhkan di depan kata berimbuhan yang diawali dengan fonem /k/, /t/, /s/, dan /p/. Misalnya: mentertawakan (tertawa), mempe-ragakan (peraga), memperhatikan (perhati/hati), dan sebagainya.

Akhirnya, marilah kita senantiasa konsisten untuk mematuhi kaidah penulisan kata dalam berbahasa Indonesia. Gunakan KBBI terkini (edisi keempat tahun 2008) sebagai salah satu acuan. Sebab perkembangan kosakata bahasa Indonesia memang begitu pesat. Sebagai contoh: KBBI edisi pertama (1988) hanya memuat 62 ribu lema, edisi kedua (1991) memuat 72 ribu lema, edisi ketiga (2001) memuat 78 ribu lema ditambah 2.034 peribahasa. Sedangkan KBBI edisi keempat (2008) sudah memuat 90.049  lema yang terdiri atas 41.250 lema pokok dan 48.799 sublema serta peribahasa sebanyak 2.036.

Penulis: Drs. Husin, M.M.

Kepala SMK Negeri 37 Jakarta

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

SOSIALISASI HASIL DIKLAT PENILAIAN PENDIDIKAN CONTOH RESENSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


KTSP

Silabus dan RPP Bahasa Indonesia (Revisi)

Flickr Photos

2016 Lake Yamanaka winter Fuji

Butterfly

Aurora Borealis at Jökulsárlón

Lebih Banyak Foto
Februari 2011
S S R K J S M
« Des   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Pos-pos Terbaru

Hymne Bahasa


%d blogger menyukai ini: