CONTOH RESENSI

Februari 13, 2011 at 4:27 am Tinggalkan komentar

SENYUM OBAT STRESS SEKALIGUS SEDEKAH

Senyum Obat Stress, Penulis: Amru Badran, Penerbit: Khalifa, Cetakan: pertama, 2006, Tebal: (xii + 82) hlm, Harga Rp22.000,00

Senyum adalah obat yang tiada taranya. Efek penyembuhannya sungguh luar biasa. Anda tidak perlu pergi jauh untuk mencarinya atau mengeluarkan isi kantong Anda. Sebab, obat yang satu ini selalu ada bersama Anda. Hanya dengan menggerakkan sedikit otot bibir  saja, senyum itu berkembang dengan indahnya.  Bahkan, dengan senyum ada puluhan otot penting yang bergerak dan sangat baik untuk kesehatan mental dan fisik Anda.

Pada bagian pengantar buku ini (hlm. x) , penulis juga menjelaskan bahwa senyum ternyata bukan hanya obat mental dan fisik saja, namun juga memberikan manfaat untuk kehidupan akhirat. Rasulullah Shalallahu Allaihi wa Salam pernah bersabda: “Senyum (yang engkau sunggingkan)  di wajah saudaramu adalah sedekah.” Banyak tersenyum berarti banyak sedakah. Bahkan, Ahmad Amin dalam Faidh Al Khathir mengatakan “Orang selalu tersenyum tidak hanya menjadi manusia paling bahagia dalam hidup mereka tetapi mereka juga orang yang paling mampu untuk bekerja, paling mampu memikul beban tanggung jawab, dan mampu menghadapi segala kesulitan  serta dapat menciptakan hal-hal besar yang berguna untuk mereka dan orang lain.

Pada intinya, buku ini mengingatkan kepada kita betapa pentingnya untuk selalu tersenyum. Tidak ada manfaatnya harta melimpah ruah kalau wajah kita selalu cemberut karena jiwa kita tertekan. Buku ini enak untuk dibaca karena diselingi dengan kisah-kisah yang menggelikan. Misalnya, “Huruf (tsa) berkata kepada huruf (sin): Saya dulu seperti dirimu tetapi seseorang telah mematuk tengahku.” (hlm. 76). Cerita-cerita semacam itu sebenarnya hanya sekadar untuk memancing kita agar tersenyum.

***

Di dalam mukadimah buku ini diceritakan tentang pengalaman penulis ketika memasuki salah satu kampung Mayyitu al-‘Amil di provinsi Daqahliah Mesir. Ia menemukan wajah-wajah muram sebagai indikasi tekanan jiwa para pemuda di kampung itu.  Salah seorang mahasiswa (Dasuki, 19 thn.) di Universitas Manshurah mengutarakan  tentang tekanan jiwa yang ia rasakan. Mahasiswa itu tertekan jiwanya bukan karena memikirkan proses belajar selama kuliah tetapi karena ia terlalu berpikir tentang masa depan setelah menyelesaikan kuliahnya. Ia bersama teman-temannya berusaha keluar dari tekanan jiwa ini dengan mengonsumsi narkoba dan menghabiskan waktu dengan jalan-jalan ke luar kota (hlm. 2).

Permasalahan yang dihadapi Dasuki dan teman-temannya itu adalah hal tidak baik yang dihadapi anak-anak remaja, termasuk anak remaja zaman sekarang. Akan tetapi tidak jarang anak remaja yang mampu mengatasi tekanan jiwa dengan ha-hal yang positif, seperti olahraga, mengikuti program seni budaya, dan sebagainya.

Dari hasil penelitian, ternyata tekanan jiwa akan meningkatkan enzim KBC. Enzim tersebut dapat menyebabkan berbagai penyakit, gelisah, kepribadian yang tidak stabil, lemah konsentrasi, tidak mampu membuat keputusan dan sebagainya. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus tentu akan merusak jaringan otak dan pada akhirnya seseorang menjadi stress. Oleh karena itu, obati tekanan jiwa itu dengan senyum. Karena telah terbukti bahwa senyuman sangat berperan positif bagi kesehatan manusia. Bahkan, senyuman dapat mengobati penyakit kulit, gigi, dan cacar. Pada derajat tertentu, senyuman juga mampu menurunkan tensi darah (hlm. 2 dan 3).

***

Senyum adalah tanda kesehatan dan kebahagiaan. Manusia yang selalu tersenyum adalah manusia bahagia. Disadari atau tidak, orang yang selalu tersenyum berarti telah menularkan kebahagiaan kepada orang lain. Orang yang senyum kepada orang yang sakit berarti orang tersebut telah menyembuhkan sebagian dari penyakitnya. Senyum adalah obat jiwa dan pahala bagi yang melakukannya. Oleh karena itu, alangkah indahnya jika seseorang melakukan pekerjaan dengan tersenyum.

Seorang psikolog Amerika pernah mengemukakan tentang hasil penelitiannya, yakni orang yang tidak pernah senyum atau tersenyum hanya dalam even-even tertentu ternyata orang-orang tersebut adalah orang yang selalu pesimis dalam hidupnya. Sebaliknya, bagi orang yang senantiasa tersenyum adalah orang yang sehat dan produktif. Jadi, senyum memang benar-benar penyebab kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup.

Rasulullah SAW juga menilai bahwa senyuman merupakan perbuatan kebaikan, sebagaimana sabdanya: “Segala kebahagiaan adalah sedekah. Sebagian dari kebaikan adalah senyuman yang engkau berikan kepada saudaramu.” Nabi Muhammad sendiri adalah orang yang selalu tersenyum.  Abud Darda berkata, “Saya tidak pernah melihat atau mendengar, Rasulullah berbicara, kecuali sambil tersenyum.” Senyuman yang bermakna tentulah senyum yang ikhlas dan lahir dari lubuk hati yang paling dalam. Senyuman yang tidak tulus akan berdampak negatif bagi orang yang melihatnya (hlm. 10).

Ternyata senyum itu beraneka , berwarna, dan memiliki berbagai makna. Senyum ada yang tulus, palsu, kegagalan, munafik, dan  senyum gelisah. Senyum juga mengandung beragam warna dan makna: senyum putih (berarti tulus), kuning (berarti palsu), hitam (berarti putus asa) dan sebagainya. Senyuman yang tulus akan menggerakan otot-otot kanan dan kiri di wajah seseorang. Sementara senyuman palsu hanya menggerakkan otot di sebelah kiri wajah (hlm. 14).

Senyuman sejati yang tulus dan putih merupakan langkah yang benar dalam mengungkapkan kebahagiaan. Senyuman yang jujur akan mengangkat otot-otot yang ada di dua sisi mulut sehingga kedua pipi pun ikut terangkat. Lalu bagaimana kita mengenal senyuman palsu. Senyuman palsu terlihat pada kedua mata yang mengecil atau menyempit. Tanda kedua senyuman palsu adalah bibir atas terangkat sangat ke atas sedangkan bibir bawah mengembang tanpa gerakan (hlm. 16).

***

Di dalam buku ini dijelaskan juga berbagai pendapat tentang senyum, “Apa Kata Mereka Tentang Senyum.” Senyum bagaikan sihir karena senyum dapat menanamkan rasa optimis di dalam jiwa, menyingkirkan kegelisahan, menyusupkan kebahagiaan dan menyegarkan jiwa. Hikmah Thailand mengemukakan bahwa senyum adalah jalan pintas bagimu untuk sampai lubuk hati orang lain. Sementara itu William S. berpendapat bahwa “Lebih baik engkau menembus jalan dengan senyuman daripada engkau menembuskanya dengan pedang” (hlm. 21).

Semakin banyak pendapat tentang senyum semakin lengkap pula penjelasan tentang senyum itu sendiri.  Mungkin itu pendapat penulis buku ini. Namun, sangat disayangkan pendapat tentang senyum ini terlalu banyak mewarnai buku ini bahkan lebih dari setengah dari buku (hlm. 21- 83), sehingga agak sedikit membosankan. Akan tetapi, karena bahasanya tidak berbelit-belit dan lugas maka buku ini tetap enak untuk dibaca. Selain itu, orang yang membaca buku ini tentu akan mawas diri, misalnya: “Sudahkan saya sadari bahwa senyum itu dapat menyembuhkan stress dan sekaligus sedekah? Sudahkah hal itu saya terapkan dalam kehidupan saya? Sudah ikhlaskah saya ketika tersenyum?

Semoga senyum kita senantiasa ikhlas sehingga betul-betul bernilai sedekah atau ibadah. Senyumlah selalu agar tidak stress. Amin.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

SEKALI LAGI TENTANG KTSP BEDAH SKL UN 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


KTSP

Silabus dan RPP Bahasa Indonesia (Revisi)

Flickr Photos

2016 Lake Yamanaka winter Fuji

Butterfly

Aurora Borealis at Jökulsárlón

Lebih Banyak Foto
Februari 2011
S S R K J S M
« Des   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Pos-pos Terbaru

Hymne Bahasa


%d blogger menyukai ini: